Wednesday, March 18, 2009

Kami Tak Akan Tinggalkan Gaza Sendirian


PM Ismail Haneya, Ketua Pemerintah di Gaza

Gaza – infopalestina; -PM Palestina, Ismail Haneya, menegaskan bahwa dialog nasional adalah jalan bagi kebebasan nasional dan bukan hanya taktik politik semata. Beliau juga menekankan bahwa prioritas bagi pemerintahannya dan Hamas adalah mewujudkan rujuk nasional secara riil.

Dalam wawancara khusus dengan infopalestina sebelum dilaksanakannya dialog nasional secara resmi hari Kamis (26/2), Haneya menjelaskan enam target utama dalam dialog yang terus diupayakan oleh Hamas dengan mengatakan;”Dialog ini merupakan jembatan menuju komitmen pada prinsip-prinsip hak Palestina, menjaga kemuliaan dan kegigihan bangsa Palestina berikut pengorbanannya, merealisasikan rujukan politik tertinggi melalui restrukturisasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) berdasarkan dasar-dasar demokrasi yang baru. Tidak itu saja, dialog ini juga ingin mewujudkan pemerintahan nasional Palestina yang tidak tergantung dengan tekanan dan dikte dari pihak luar. Mengembalikan struktur aparat keamanan berdasarkan pondasi nasional jauh dari nepotisme dan kerjasama dengan pihak Zionis Israel. Menjaga hak bangsa Palestina di dalam perjuangan dan perlawanan.

Berikut wawancara khusus dengan PM Ismail Haneya selengkapnya:

Dialog dan Kesempatan Sukses

Bersamaan dengan dimulainya dialog dan sejumlah pertemuan bilateral dengan pihak Fatah, untuk memulai dialog yang integral, masih saja sebagian orang bertanya-tanya dan meragukan keseriusan sejumlah pihak dengan dialog tersebut dan apa yang bisa dihasilkan?

Pertama, kami menganggap perbedaan internal Palestina, tanpa melihat kondisi dan indikasi-indikasinya, merupakan fenomena yang tidak alami. Kita harus serius keluar dari persoalan ini, dan kami melihat bahwa dialog adalah jalan ke arah itu. Dengan tujuan menghidupkan kembali kontribusi nasional dalam kerja politik sesuai dengan kaidah Undang-Undang Dasar (UUD) dan norma politik yang ada. Terlebih lagi kita saat ini di fase pembebasan dari penjajahan. Oleh karena itu, kami meletakkan kepentingan umum persoalan Palestina sebagai prioritas utama, khususnya dalam masalah kesatuan antara Tepi Barat dan Jalur Gaza, kita utamakan dibandingkan dengan persoalan lainnya jika memang terjadi kontradiksi didalamnya.

Namun bentuk dialog seperti apa yang diinginkan yang bisa dijadikan patokan dan menjamin terwujudnya hasil yang nyata?

Kami terus mengupayakan terjadinya dialog nasional yang serius, simpel dan mendalam. Bisa membentuk jembatan menuju komitmen pada hak-hak Palestina. menjaga kemuliaan dan kegigihan bangsa Palestina berikut pengorbanannya, merealisasikan rujukan politik tertinggi melalui restrukturisasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) berdasarkan dasar-dasar demokrasi yang baru. Tidak itu saja, dialog ini juga ingin mewujudkan pemerintahan nasional Palestina yang tidak tergantung dengan tekanan dan dikte dari pihak luar. Mengembalikan struktur aparat keamanan berdasarkan pondasi nasional jauh dari nepotisme dan kerjasama dengan pihak Zionis Israel. Menjamin hak bangsa Palestina di dalam perjuangan dan perlawanan.

Rujuk Nasional

Disana ada yang merasa heran dan bertanya-tanya bagaimana bisa terjadi sebagian pihak yang dulunya menolak dialog, kini begitu semangat menyuarakan hal itu, apa pandangan Anda?

Jauh dari prediksi atau dorongan yang melatarbelakangi pihak-pihak lain berdialog, khususnya setelah keteguhan dan kegigihan bangsa, pemerintah dan gerakan kita di Jalur Gaza, maka sesungguhnya prioritas kami adalah mewujudkan rekonsiliasi (rujuk) nasional secara riil pada gerak politik yang integral dan jelas bisa mengembalikan kesatuan bangsa Palestina. Sekaligus bisa mengokohkan mereka dalam menghadapi tantangan masa depan dengan pandangan dan program politik kebersamaan yang mengakomodir semua rakyat Palestina. Jauh dari marginalisasi dan represif, yang menghantarkan kemerdekaan dan berdirinya negara Palestina dengan ibukotanya, Al-Quds.

Jika demikian, apakah Anda yakin dialog seperti ini menghasilkan sesuatu? Dan landasan apa yang bisa dijadikan pegangan untuk itu?

Perlu kami ingatkan bahwa kami memiliki warisan etika dan dokumen yang bisa membantu kami menuju keberhasilan dialog ini. Salah satunya, perjanjian Kairo, dokumen rekonsiliasi nasional, perjanjian Mekkah, kerja panjang yang bersinergi dalam kerangka komisi tinggi evaluasi Intifadah di Jalur Gaza dan lembaga koordinasi faksi-faksi di Tepi Barat. Semua itu mewakili pondasi yang kuat dalam menyukseskan dialog ini.

Yang lebih penting lagi, kami ingin mengingatkan bahwa pengondisian pra dialog harus dilakukan agar rencana ini berjalan dengan baik, termasuk pembebasan tahanan politik, penghentian kampanye provokatif, pembukaan lembaga-lembaga sosial yang ditutup dan ikut serta dalam keputusan politik dan keamanan.

Ketenangan dan Keresahan

Beberapa waktu lalu telah dicapai kesepahaman untuk menghentikan kampanye provokatif di media dan membebaskan tawanan, namun komitmennya lemah, apa pendapat Anda?

Kami di pemerintah Palestina menyambut baik akan kesepahaman yang dicapai antara dua kelompok besar (Hamas dan Fatah), yang diumumkan beberapa waktu lalu, bukan kesepakatan baru terakhir yang diumumkan pada Rabu (25/2) yang menitikberatkan penghentian kampanye media provokatif dan penghentian penangkapan berbau politik. Karena komitmen pemerintah dengan kesepakatan-kesepakatan itu dan menjaga terjaminnya kondisi yang kondusif, maka pemerintah mengambil langkah-langkah terkait dengan itu, akan tetapi para pengamat menilai, pihak Ramallah (Abu Mazen dan konco-konconya, pent.) tidak menunjukkan itikad baik untuk komitmen dengan perjanjian tersebut. Mereka masih menahan puluhan kader Hamas, bahkan informasi yang kami dapatkan para tahanan ini mendapatkan siksaan dari aparat keamanan Tepi Barat.

Disana ada yang mengatakan bahwa di Gaza juga sama terjadi pelanggaran yang sama?

Ketika terjadi kesalahan dan pelanggaran, maka siapapun tidak ada yang kebal dari kesalahan. Namun kita perlu mengevaluasi dan membuat aturan agar perilaku individu tidak menjadi sikap dan perilaku secara umum. Walaupun demikian, saya tetap khawatir ada orang yang ingin menghalangi suksesnya dialog.

Saya tahu bahwa di antara kita ada pabrik besi dan jalan ke arah dialog ini tidak dihampari dengan bunga wangi. Tentu dialog ini banyak rintangan dan halangannya. Namun pada saat yang sama, saya tekankan bahwa dialog ini adalah untuk kemaslahatan nasional tertinggi dan prinsip dalam kerja politik. Oleh karena itu harus diupayakan agar dialog sukses karena untuk kepentingan nasional Palestina, bukan untuk mementingkan satu pihak saja.

Prioritas di Fase Ini; Bantuan, Pencabutan Blokade dan Rekontruksi

Setelah perang di Gaza, prioritas apa yang sekarang dilakukan?

Salah satu faktor kemenangan dalam perang “furqon” di Gaza adalah saling mendukung antara pejuang dengan warga. Pihak penjajah gagal dalam memecah belah antara rakyat, pemerintah dan pejuang. Dari sini kami ingin jelaskan bahwa kebijakan kami hari ini adalah mempererat hubungan antara rakyat, pemerintah dan pejuang serta menunaikan janji kepada rakyat dengan semangat kegigihan dan pengorbanannya. Untuk mencapai hal itu, kami memprioritaskan kerja-kerja berikut ini:

1- Bantuan cepat kepada warga Gaza yang menjadi korban perang, pemilik rumah yang hancur, keluarga syahid, korban luka, pekerja, petani, nelayan, pemilik pabrik nasional dan lain-lainnya.

2- Kami berusaha untuk membuka pintu-pintu perlintasan, mencabut blokade, berbagai cara, baik politik, diplomasi, media dan kerja-kerja missal serta cara-cara yang lain.

3- Rekontruksi, dalam kaitan ini kami sudah mengajukan rancangan program, termasuk persetujuan atas pembentukan komisi di parlemen Palestina, ditambah dengan rekan-rekan independen untuk mengetuai komisi ini memantau program rekontruksi Gaza. Dengan begitu, kami ingin menegaskan bahwa program ini tidak dipolitisasi. Langkah cepat yang harus dilakukan seharusnya melindungi warga yang menjadi korban perang. Untuk itu kami selalu menyuarakan slogan “teman dalam keteguhan, teman juga dalam rekontruksi”. Kami sudah bertekad untuk menyelesaikan program-program bantuan dan rekontruksi dalam waktu yang singkat. Kami ingin tegaskan pula bahwa kami tidak ambius untuk mendapatkan dana bantuan itu, namun yang kami pikirkan adalah bagaimana mengakhiri penderitaan warga Gaza akibat agresi militer Zionis Israel.

No comments: